NO NISN SISWA MI 52-NTB 2014 ACC

50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0012956070 Zulpian Sapi`I Labu Pandan 2001-06-02 L 6 Amer
50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0013125991 Muhammad Zubratul Wahidin Batu Ngerenseng 2001-02-02 L 6 Sauni
50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0014329832 Junaidi Batu Ngerenseng 2001-04-01 L 6 I. Ras
50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0015640845 Sapwan Hadi Batu Ngerenseng 2001-05-07 L 6 Nuhayati
50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0022154538 Muhammad Zainul Hadi Asya Batu Ngerenseng 2002-11-13 L 6 Sariah
50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0023784498 Reza Ripaldo Batu Ngerenseng 2002-01-01 L 6 Runikwati
50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0023864291 Dian Silviani Batu Ngerenseng 2002-07-16 P 6 Hatmah
50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0024400408 Saipul Hamdi Batu Ngerenseng 2002-12-31 L 6 I. Hamdi
50201607 MIS Langgalawe I Jl. Wisata Pemancingan Waduk Batu Ngerenseng Batukliang Utara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat 0024789837 Sahmin Sesulu 2002-03-02 P 6 I. Min


ini non NISN Madrasah Se NTB tahun 2014
kalau mau yang lengkapDI SINI
UNDUH  :

CANDI-CANDI DI JAWA TENGAH

      CANDI-CANDI DI JAWA TENGAH
      
      Kata “candi” mengacu pada berbagai macam bentuk dan fungsi bangunan, antara lain empat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Budha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Budha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14.
Candi-candi Budha umumnya dibangun sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan untuk mendapatkan ganjaran. Ajaran Buddha yang tercermin pada candi-candi di Jawa Tengah adalah Budha Mahayana, yang masih dianut oleh umat Budha di Indonesia sampai saat ini. Berbeda dengan aliran Budha Hinayana yang dianut di Myanmar dan Thailand.
Berikut kami akan memaparkan 12 Candi Budha menurut Sharing di Sini yang terdapat di Pulau Jawa bagian tengah tepatnya di Propinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta yang layak untuk kita jadikan salah satu agenda wisata di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
        # Candi Banyunibo
       Candi Banyunibo terletak di selatan Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Letaknya sekitar 200 m dari Candi Barong, sekitar 1 km sebelah barat daya jalan raya Yogya-Solo. Candi Budha ini berdiri menghadap ke barat, menyendiri di lahan pertanian. Pada saat ditemukan, candi ini hanya berupa reruntuhan. Berdasarkan hasil penelitian diperkirakan bahwa Candi Banyuniba terdiri atas satu candi induk yang menghadap ke Barat dan dikelilingi deretan candi perwara berbentuk stupa, 3 berderet di selatan dan 3 lagi di timur. Di halaman belakang candi terdapat sebuah lubang seperti sumur. Ukuran Candi Banyunibo relatif kecil, yaitu lebar 11 m dan panjang sekitar 15 m. Tubuh candi berdiri di atas ‘batur’ setinggi 2,5 m yang terletak di tengah hamparan batu andesit yang tertata rapi. Selisih luas batur dengan tubuh candi membentuk selasar yang cukup lebar untuk dilalui 1 orang. Dinding dan pelipit atas batur dipenuhi dengan hiasan bermotif sulur dan dedaunan yang menjulur keluar dari sebuah wadah mirip tempayan.  Di setiap sudut kaki candi terdapat hiasan mirip kepala Kala yang disebut ‘jala dwara”. Hiasan ini berfungsi sebagai saluran pembuang air hujan. Atap candi berbentuk limasan seperti kubah (dagoba) dengan stupa di puncaknya.
 



          # Candi Borobudur
       Candi Barabudur  terletak di Kabupaten Magelang, sekitar 15 km ke arah Baratdaya Yogyakarta. Candi Budha terbesar di Indonesia ini telah warisan budaya dunia dan telah terdaftar dalam daftar warisan dunia (world heritage list). Lokasi Candi Barabudhur yang merupakan bukit kecil dikelilingi oleh pegunungan Menoreh, G. Merapi dan G. Merbabu di timurlaut, serta G. Sumbing dan G. Sindoro di baratlaut. Candi Barabudhur berdiri di atas bukit yang memanjang arah timur-barat. Candi ini dibangun dari balok batu andesit sebanyak 47,500 m3, yang disusun rapi tanpa perekat, dan dilapisi dengan lapisan putuh ‘vajralepa’, seperti yang terdapat di Candi Kalasan dan Candi Sari. Bangunan  kuno Barabudur berbentuk limas bersusun dengan tangga naik di keempat sisi, yaitu sisi timur, selatan, barat, dan utara. Tangga paling bawah dihiasi dengan kepala naga dengan mulut menganga dan seekor singa duduk di dalamnya. Dugaan bahwa Candi Barabudur menghadap ke timur diperkuat dengan adanya pahatan relief pradaksina ( yang dibaca memutar searah jarum jam), berawal dari dan berakhir di sisi timur. Selain itu, arca singa yang terbesar juga terdapat di sisi timur. Tangga menuju ke tingkat yang lebih tinggi dilengkapi dengan gerbang yang berukir indah dengan kalamakara tanpa rahang bawah di atas ambang pintu. Pada mulanya tinggi keseluruhan bangunan kuno ini mencapai 42 m, namun setelah pemugaran tingginya hanya mencapai 34,5 m. Batur atau kaki candi berdenah bujur sangkar dengan luas denah dasar 123 x 123 m, dilengkapi penampil yang menjorok keluar di setiap sisi. Keseluruhan bangunan terdiri atas 10 lantai yang luasnya mencapai 15, 13 m2. Lantai I sampai dengan lantai VII berbentuk persegi, sedangkan lantai VII sampai dengan lantai X berbentuk lingkaran. Candi Barabudur tidak mempunyai ruangan untuk tempat beribadah atau melakukan pemujaan karena candi ini dibangun untuk tempat berziarah dan memperdalam  pengetahuan tentang Budha. Luas dinding keseluruhan mencapai 1500 m2, dihiasi dengan  1460 panil relief, masing-masing selebar 2 m. Jumlah Arca Buddha, termasuk yang telah  rusak, mencapai 504 buah.  Arca-arca Budha tersebut menggambarkan Budha dalam berbagai sikap.
 










       # Candi Bubrah
       Candi Bubrah terletak di dalam Kawasan Wisata Prambanan, yaitu di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Tidak banyak informasi yang didapat mengenai candi yang saat ini tinggal berupa ‘batur’ (kaki candi) yang telah rusak dan onggokan batu bekas dinding. Nama ‘Bubrah’ dalam bahasa Jawa berarti hancur berantakan. Tidak jelas apakah candi ini dinamakan Bubrah karena ketika ditemukan kondisinya memang sudah dalam keadaan (bubrah) berantakan atau karena memang itulah namanya. Ukuran Candi Buddha ini relatif kecil dengan denah dasar persegi panjang, memanjang arah utara-selatan. Ukuran tepatnya tidak bisa didapatkan karena reruntuhan candi ini dikelilingi pagar terkunci. Tinggi batur (kaki) candi sekitar 2 m. Sepanjang pelipit atas dihiasi dengan pahatan berpola simetris. Tidak terlihat adanya sisa-sisa relief pada dinding kaki candi. Tangga naik ke selasar di permukaan batur terletak di sebelah timur.
 


 


         # Candi Kalasan
        Candi Kalasan terletak di Desa Kalibening, Tirtamani, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya sekitar 16 km ke arah timur dari kota Yogyakarta. Dalam Prasasti Kalasan dikatakan bahwa candi ini disebut juga Candi Kalibening, sesuai dengan nama desa tempat candi tersebut berada. Tidak jauh dari Candi Kalasan terdapat sebuah candi yang bernama  Candi Sari. Kedua candi tersebut memiliki kemiripan dalam keindahan bangunan serta kehalusan pahatannya.
Ciri khas lain yang hanya ditemui pada kedua candi itu ialah digunakannya vajralepa (bajralepa) untuk melapisi ornamen-ornamen dan relief pada dinding luarnya. Menurut Prasasti Kalasan yang ditulis pada tahun Saka 700 (778 M)., dalam Prasasti Kalasan diterangkan bahwa para penasehat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Budha. Bangunan candi diperkirakan berada pada ketinggian sekitar dua puluh meter diatas permukaan tanah, sehingga tinggi keseluruhan bangunan candi mencapai 34 m.

Candi Kalasan berdiri diatas alas berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 45×45 m yang membentuk selasar di sekeliling candi. Di setiap sisi terdapat tangga naik ke emperan candi yang dihiasi sepasang kepala naga pada kakinya. Di hadapan anak tangga terbawah terdapat hamparan lantai dari susunan batu. Di depannya kaki tangga dipasang lempengan batu yang tipis dan halus dengan bentuk berlekuk-lekuk. Bangunan candi secara keseluruhan berbentuk empat persegi panjang berukuran 34x 45 m, terdiri atas ruang utama yang berbentuk bujur sangkar dan bilik-bilik yang menjorok keluar di tengah keempat sisinya. Dinding di sekeliling kaki candi dihiasi dengan pahatan bermotif kumuda, yaitu daun kalpataru yang keluar dari sebuah jambangan bulat. Candi Kalasan memiliki 4 buah pintu yang terletak di keempat sisi, namun hanya pintu di sisi timur dan barat yang mempunyai tangga untuk mencapai pintu dan hanya pintu di sisi timur yang merupakan pintu masuk ke ruang utama di tengah candi. Dilihat dari letak pintu utamanya tersebut dapat dikatakan bahwa Candi Kalasan menghadap ke timur. Di sepanjang dinding candi terdapat cekungan-cekungan yang berisis berbagai arca. Diatas semua pintu dan cekungan selalu dihiasi dengan pahatan bermotif Kala. Tepat di atas ambang pintu, di bawah pahatan Kalamakara, terdapat hiasan kecil berupa wanita bersila memegang benda di kedua belah tangannya. Relung-relung di sisi kiri dan kanan atas pintu candi dihiasi dengan sosok  dewa dalam posisi berdiri memegang bunga teratai. Bagian  atas tubuh candi berbentuk kubus yang melambangkan puncak Meru, dikelilingi oleh 52 stupa setinggi, rata-rata, 4,60 m.Sepanjang batas antara atap dan tubuh candi dihiasi dengan deretan makhluk kerdil yang disebut Gana. Atap candi ini berbentuk segi delapan dan bertingkat dua. Tingkat pertama dihiasi dengan relung-relung berisi arca Budha, sedangkan tingkat ke dua dihiasi dengan relung-relung berisi arca Dhayani Budha. Puncak candi sesungguhnya berbentuk stupa .Ruang utama candi berbentuk bujur sangkar dan mempunyai pintu masuk di sisi timur. Di dalam ruangan tersebut terdapat susunan batu bertingkat yang dahulu merupakan tempat meletakkan patung Dewi Tara yang terbuat dari perunggu setinggi enam meter, di belakang susunan batu tersebut terdapat semacam altar pemujaan.
 









         # Candi Lumbung
       Candi Lumbung terletak beberapa ratus meter di sebelah Selatan Candi Sewu. Candi ini sudah masuk dalam wilayah Kabupaten Klaten, Surakarta. Tidak jelas apakah nama Lumbung memang merupakan nama candi ini atau nama itu hanya merupakan sebutan masyarakat di sekitarnya karena bentuknya yang mirip lumbung (bangunan tempat penyimpanan padi). Bangunan suci Buddha ini merupakan gugus candi yang terdiri atas 17 bangunan, yaitu satu candi utama yang terletak di pusat, dikelilingi oleh 16 candi perwara. Halaman komples Candi Lumbung ini ditutup hamparan batu andesit.
 
       # Candi Mendut
         Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa barat, sekitar 38 km ke arah barat laut dari Yogyakarta. Lokasinya hanya sekitar 3 km dari Candi Barabudhur, yang mana Candi Buddha ini diperkirakan mempunyai kaitan erat dengan Candi Pawon dan Candi Mendut. Ketiga candi tersebut terletak pada satu garis lurus arah utara-selatan. Konon candi mendut diperkirakan usianya lebih tua dibandingkan dengan Candi Borobudur. Candi ini pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1836. Seluruh bangunan candi Mendut diketemukan, kecuali bagian atapnya. Pada tahun 1897-1904, pemerintah Hindia Belanda melakukan uapaya pemugaran yang pertama dengan hasil yang cukup memuaskan walaupun masih jauh dari sempurna. Kaki dan tubuh candi telah berhasil direkonstruksi. Pada tahun 1908, Van Erp memimpin rekonstruksi dan pemugaran kembali Candi Mendut, yaitu dengan menyempurnakan bentuk atap, memasang kembali stupa-stupa dan memperbaiki sebagian puncak atap. Candi Mendut memiliki denah dasar berbentuk segi empat. Tinggi bangunan seluruhnya 26,40 m. Tubuh candi Buddha ini berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Di permukaan batur terdapat selasar yang cukup lebar dan dilengkapi dengan langkan. Dinding kaki candi dihiasi dengan 31 buah panel yang memuat berbagai relief cerita, pahatan bunga dan sulur-suluran yang indah.
 


                 CANDI DI JAWA BARAT

                           1. Candi Cetho
 












Candi Cetho merupakan sebuah candi bercorak agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh dengan Candi Sukuh. Lokasi candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, pada ketinggian 1400m di atas permukaan laut.
Ciri-cirinya:
Pada keadaannya yang sekarang, Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan di sini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho.
 


             2. Candi Asu
 
       Candi Asu adalah nama sebuah candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi Pos, kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah (kira-kira 10 km di sebelah timur laut dari candi Ngawen). Di dekatnya juga terdapat 2 buah candi Hindu lainnya, yaitu candi Pendem dan candi Lumbung (Magelang). Nama candi tersebut merupakan nama baru yang diberikan oleh masyarakat sekitarnya.
Ciri-cirinya :
Disebut Candi Asu karena didekat candi itu terdapat arca Lembu Nandi, wahana dewa Siwa yang diperkirakan penduduk sebagai arca asu ‘anjing’. Disebut Candi Lumbung karena diduga oleh penduduk setempat dahulu tempat menyimpan padi (candi Lumbung yang lain ada di kompleks Taman Wisata candi Prambanan). Ketiga candi tersebut terletak di pinggir Sungai Pabelan, dilereng barat Gunung Merapi, di daerah bertemunya (tempuran) Sungai Pabelan dan Sungai Tlingsing. Ketiganya menghadap ke barat. Candi Asu berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7,94 meter. Tinggi kaki candi 2,5 meter, tinggi tubuh candi 3,35 meter. Tinggi bagian atap candi tidak diketahui karena telah runtuh dan sebagian besar batu hilang. Melihat ketiga candi tersebut dapat diperkirakan bahwa candi-candi itu termasuk bangunan kecil. Di dekat Candi Asu telah diketemukan dua buah prasati batu berbentuk tugu (lingga), yaitu prasasti Sri Manggala I ( 874 M ) dan Sri Manggala II ( 874 M ).








         3. Candi Gunung Wukir
 
           Candi Gunung Wukir atau Candi Canggal adalah candi Hindu yang berada di dusun Canggal, kalurahan Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah. Candi ini tepatnya berada di atas bukit Gunung Wukir dari lereng gunung Merapi pada perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Menurut perkiraan, candi ini merupakan candi tertua yang dibangun pada saat pemerintahan raja Sanjaya dari zaman Kerajaan Mataram Kuno, yaitu pada tahun 732 M (654 tahun Saka).
Ciri-cirinya:
Kompleks dari reruntuhan candi ini mempunyai ukuran 50 m x 50 m terbuat dari jenis batu andesit, dan di sini pada tahun 1879 ditemukan prasasti Canggal yang banyak kita kenal sekarang ini. Selain prasasti Canggal, dalam candi ini dulu juga ditemukan altar yoni, patung lingga (lambang dewa Siwa), dan arca lembu betina atau Andini.



           4. Candi Prambanan
 
Berdiri di bawah Candi Hindu terbesar di Asia Tenggara ini selarik puisi tiba-tiba terlintas di benak


Candi Prambanan yang dikenal juga sebagai Candi Roro Jonggrang ini menyimpan suatu legenda yang menjadi bacaan pokok di buku-buku ajaran bagi anak-anak sekolah dasar. Kisah Bandung Bondowoso dari Kerajaan Pengging yang ingin memperistri dara cantik bernama Roro Jonggrang. Si putri menolak dengan halus. Ia mempersyaratkan 1000 candi yang dibuat hanya dalam waktu semalam. Bandung yang memiliki kesaktian serta merta menyetujuinya. Seribu candi itu hampir berhasil dibangun bila akal licik sang putri tidak ikut campur. Bandung yang kecewa lalu mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca, yang diduga menjadi arca Batari Durga di salah satu candi.






              5. Candi Gunung Sari
 
         Candi Gunung Sari adalah salah satu candi Hindu Siwa yang ada di Jawa. Lokasi candi ini berdekatan dengan Candi Gunung Wukir tempat ditemukannya Prasasti Canggal.
Ciri-cirinya:
Candi Gunung Sari dilihat dari ornamen, bentuk, dan arsitekturnya kemungkinan lebih tua daripada Candi Gunung Wukir. Di Puncak Gunung Sari kita bisa melihat pemandangan yang sangat mempesona dan menakjubkan. Candi Gunung Sari terletak di Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Semoga di masa depan Candi Gunung Sari semakin dikenal oleh banyak orang untuk dapat menemukan inspirasi dan keindahanny.


Meningkatkan kualitas

Meningkatkan kualitas pendidikan dengan fokus pada peningkatan kualitas guru menjadi perhatian kita ke depan. Penambahan alokasi tunjangan untuk guru ini adalah salah satu elemen penting untuk peningkatan kesejahteraan guru dalam upaya meningkatkan kualitasnya. Mari kita bersama mengawal agar alokasi ini efektif dan transparan.

Guru Malas Mengajar, di mana Nuranimu?



Guru di sekolah malas mengajar, siswa cuma diberi tugas, dirinya nyantai di ruang guru. Ada juga yang mengajar separuh jalan sisa waktunya kelas ditinggal begitu saja. Ada guru yang meninggalkan tempat tugas selama berhari-hari. Kalau anda jadi kepala sekolah bagaimana mengatasinya?
Sungguh masuk orang yang tidak bersyukur, kalau jadi orang tidak amanah menjalankan tugas kerja, lebih-lebih seorang guru (apalagi berstatus pns) melalaikan tugas yang dipercayakan padanya. Gaji diterima penuh untuk menghidupi diri dan keluarganya, tetapi kinerja tidak juga membaik. Mari kita berusaha untuk memperbaiki kinerja diri. Tidak lagi mengambil ukuran diri pada orang berkinerja jelek, karena pimpinan tak tegas.
Saya juga guru, suka bandel juga sih, alias bukan guru yang baik, tapi beban tugas mengajar untuk memberikan yang terbaik itu jadi obsesi saya. Wou sok banget yah kedengarannya. Benar siswa adalah segalanya bagi guru. Kasihan mereka kalau sampai tidak kita layani dengan baik. Semua itu bukan karena siapa-siapa tapi kita sudah terlanjur janji untuk mau mengabdi. Halah…
Mental guru buruk yang tak kan pernah memikirkan bagaimana siswa bisa terlayani belajar dengan baik. Melaksanakan tugas hanya sekedarnya, apalagi kalau supervisi tidak pernah ada atau dilakukan pihak terkait. Ujian pun jarang mereka koreksi dengan benar. Ini belum dikaitkan dengan standar kompetensi guru itu loh. Umpan balik dari hasil ujian tidak pernah diambil untuk memperbaiki kinerja diri dan siswanya. Alhasil hancurlah sekolah itu. Terpuruklah siswa yang memiliki berpotensi itu.
Karena mental sudah buruk ada saran positif pun tidak digubris. Memang saran, nasehat dari siapapun kalau sudah tidak suka dengan yang beri nasehat pasti nasehat itu tak berguna. Subyektivitas diri lebih mengemuka, efeknya membuat segalanya tidak akan membaik. Produktivitas diri tak berubah lebih baik, kinerja hancur. Pikiran-pikiran tertutup hanya bisa terbuka kalau mereka dapat hidayah dari Tuhan. Barangkali perlu teguran keras dari Tuhannya.
Jaman sekarang kok ternyata masih ada guru yang malas mengajar tapi rajin menerima gaji. Kalau saya jadi bosnya sudah saya depak kalau memang tidak mau dinasehati. Untung bukan saya (tapi saya tidak akan pernah jadi kepala sekolah jadi santai saja yah, jangan takut :) ). Pemerintah sudah saatnya memberikan kewenangan pimpinan untuk ‘menghadiahi’ guru yang kerjanya tidak beres. Tidak cukup hanya DP3 saja. DP3 selama ini toh formalitas saja.

Sekali lagi manajemen yang kacau di level wilayah sampai level sekolah sangat merugikan siswa. Penyadaran akan tanggung jawab sebagai guru dengan amanah mulya sangat diperlukan. Pelatihan yang menyentuh hati sangat dibutuhkan dan diintensifkan. Bukan hanya pelatihan formal yang sekedarnya. Guru… Di mana nurani-MU? Masih adakah?! Sumber : https://www.facebook.com/muhasir.alfaat1?sk=notes

5 prinsip belajar menurut paradigma konstruktivisme



 peserta didik; (4) kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan dan kemauan peserta didik, dan (5) selalu menilai kemajuan peserta didik melalui konteks pembelajaran.
Kelima prinsip di atas, akan menjadi lebih hidup subur di dalam kelas apabila guru dengan ikhlas menerima dan mendorong tumbuhnya otonomi dalam diri siswa, data mentah hasil belajar dan sumber utama rekaman hasil belajar lainnya dijadikan dasar untuk meneliti kemajuan belajar siswa. Kelas akan menjadi hidup dan suasana kelas konstruktuvisme akan mendapatkan lahan yang subur apabila guru menerima dengan dada terbuka dan memberikan tempat terhadap munculnya pikiran siswa, rasa ingin tahu, keinginan meneliti, dialog guru-siswa dan siswa-siswa, serta keberanian mempersoalkan sesuatu yang belum jelas.



Syukur Gazali (2002 : 118) mengemukakan bahwa kelas konstruktivistik mempunyai ciri yang berbeda secara signifikan dengan keadaan kelas yang tidak berwawasan konstruktivisme. Ciri yang dimaksud adalah seperti berikut ini.

1)      Guru akan selalu berusaha menciptakan kelas yang dapat membuat siswa berani berinteraksi.

2)      Kelas selalu didorong untuk bekerja sama antar murid dan munculnya inisiatif bekerjasama tersebut mendapatkan penghargaan.

3)      Untuk memberikan kesadaran kepada siswa bahwa pelajaran yang dipelajarinya itu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, guru memberikan tugas-tugas dan materi yang interdisiplin. Untuk itu, guru lain dari bidang studi yang berbeda dapat hadir di suatu kelas untuk menyaksikan dan memberikan penilaian terhadap kemajuan belajar siswa.

4)      Memberikan ruang kepada peserta didik yang suka melakukan sesuatu yang beresiko, misalnya dengan memberikan tugas-tugas yang penuh tantangan.

5)      Suasana yang kolaboratif selalu diupayakan diciptakan di dalam kelas. Karena itu guru perlu menghindari munculnya kebiasaan peserta didik yang acapkali bertindak mencari “menang sendiri” dan tidak mau menerima dan menghargai pendapat temannya.

Lebih lanjut, Syukur Gazali (2002 : 120) mengemukakan bahwa untuk dapat mewujudkan kelas dengan ciri-ciri di atas diperlukan pendidik dengan perspektif konstruktivisme. Pendidik dikatakan mempunyai ciri konstruktivisme apabila dirinya mampu memperlihatkan perilaku seperti berikut.

1)      Memberikan dorongan dan menerima kemandirian dan inisiatif peserta didik.

2)      Membiasakan peserta didik berhadapan dengan beragam data antara lain : data asli (alamiah), manipulatif, interaktif, atau benda nyata.

3)      Merumuskan tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didiknya dengan rumusan tujuan seperti klasifikasikanlah, analisislah, ramalkan, atau buatlah kreasi sesuai dengan pengalaman yang dimiliki.

4)      Tidak berkeberatan mengubah strategi pembelajaran, isi atau arah pembelajaran sesuai dengan tuntutan keadaan, terutama apabila hal tersebut lebih membawa keuntungan di pihak peserta didik.

5)      Berusaha keras agar peserta didik memahami konsep tentang sesuatu sebelum pendidik memberitahukan bagaimana pemahamannya tentang sesuatu tersebut.

6)      Berusaha mendorong keberanian peserta didik untuk berdialog dengan pendidik, dengan teman sekelasnya, dengan orang asing atau orang yang belum pernah kenal dengan mereka, terutama bila hal tersebut berhubungan dengan pencarian kebenaran.

7)      Berusaha membangun keberanian siswa untuk meneliti/ingin tahu sesuatu dengan cara mendorong mereka mengajukan pertanyaan, memberikan pertanyaan dengan jawabannya ganda (open-ended question), atau saling bertanya satu sama lain.

8)      Tidak membiasakan anak didiknya menjawab dengan jawaban pendek, terutama bila jawaban yang dituntut memerlukan penalaran. Pendidik hendaknya mendorong peserta didik untuk mengembangkan jawabannya.

9)      Berusaha melibatkan peserta didiknya dengan pengalaman yang mungkin kontradiktif dengan hipotesis peserta didik semula, untuk ini perlu diberikan kesempatan berdiskusi jika peserta berhadapan hal-hal yang kontradiktif tersebut.

10)  Memberikan waktu berpikir yang cukup kepada peserta didiknya untuk memikirkan jawab yang tepat untuk pertanyaan yang diajukan oleh gurunya. Guru tidak boleh membiasakan murid berpikir tergesa-gesa.

11)  Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membangun hubungan baik dengan teman kelompoknya, maupun teman lain di luar kelompoknya, membangun rasa ingin tahu (curiosity) peserta didiknya secara alamiah melalui kelompok-kelompok kecil yang dibentuk untuk belajar, berusaha memecahkan persoalan, dan mencari jalan keluar bagi masalah yang dihadapi oleh kelompok secara bersama-sama.

Peran Guru Menurut Para Ahli Konstruktivis

Peran Guru Menurut Para Ahli Konstruktivis
Oleh :  Suaidin Dompu

Para ahli konstruktivis berpendapat bahwa, peran guru di depan kelas hendaknya di geser dari teacher center menjadi student centre. Bahkan guru lebih berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Peran sebagai mediator dan fasilitator yang dimaksud yaitu : a) menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa melakukan eksplorasi dan elaborasi, sehingga memberikan ceramah bukanlah tugas utama guru; b) menyediakan sarana yang dapat merangsang siswa berpikir secara kreatif dan produktif, c) memfasilitas siswa dalam proses eksplorasi dan memberikan konfirmasi terhadap apa yang diperoleh siswa, sehingga pengalaman tersebut dapat dijadikan pengetahuan yang merupakan hasil konstruksi siswa itu sendiri. 




VISI DAN MISI UMKM AL-FAAT



VISI DAN MISI
“KELOMPOK USAHA” UMKM AL-FAAT
Alamat : Jln. Irigasi No. 1 Sipon Desa Bara Kec. Woja Kab. Dompu
 


Visi
Mencetak insan-insan koperasi yang berkualitas,
bertanggung jawab dan professional. 
Misi
§  Mendidik dan Melatih anggota tentang Perkoperasian
§  Melibatkan secara  aktif seluruh anggota untuk berpartisipasi dalam Koperasi Sekolah/Madrasah
§  Menyediakan barang-barang UMKM kebutuhan anggota
§  Memberikan harga-harga barang yang layak
§  Memberi pelayanan yang memuaskan kepada seluruh anggota
§  Melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Masyarakat


SEJARAH KOPERASI SEKOLAH MI AL-FAAT SIPON-BARA

SEJARAH  KOPERASI SEKOLAH
MI AL-FAAT SIPON-BARA

Alamat : Jalan Irigasi No. 1 Sipon Desa Bara Kec.Woja Kab.Dompu
Pengertian Koperasi
Koperasi sekolah  adalah koperasi yang didirikan di lingkungan sekolah Anggota-anggotanya terdiri atas siswa sekolah. Koperasi sekolah dapat didirikan pada berbagai tingkatan sesuai jenjang pendidikan. Sebagai contoh, koperasi sekolah dasar, koperasi sekolah menengah pertama, dan seterusnya. Koperasi tidak berbadan hukum. Pengurus dan pengelola koperasi sekolah dilakukan oleh para siswa di bawah bimbingan kepala sekolah dan guru-guru. Tanggung jawab ke luar koperasi sekolah dilakukan oleh kepala sekolah. Pembinaan terhadap koperasi sekolah dilaksanakan bersama antara Kantor  Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Departemen Pendidikan Nasional RI dan Departemen Agama RI.
Koperasi sekolah tidak berbadan hukum seperti koperasi-koperasi lainnya karena siswa belum mampu melakukan tindakan hukum. Koperasi sekolah diharapkan menjadi sarana bagi pelajar untuk belajar melakukan usaha, mengembangkan kemampuan berorganisasi, mendorong untuk berinovasi, dan sebagainya.
Profil Koperasi Sekolah MI AL-Faat Bara
Koperasi Sekolah MI AL-Faat Bara dididirikan oleh para pengusaha kecil pada tahun 2010 yang memberi solusi dalam mengatasi kesulitan untuk mendapatkan bantuan permodalan, karena pada umumnya mereka mengelola usahanya secara tradisional untuk sekolah.
Untuk menanggulangi kesulitan tersebut pada tanggal 10 Februari 2010 diadakan pertemuan yang terdiri dari tokoh masyarakat dari ketiga etnis : pribumi, keturunan china dan keturunan arab. Mereka sepakat membentuk koperasi yang usahanya di sekolah MI AL-Faat. Dan atas dasar kesepakatan, koperasi tersebut diberi nama Koperasi Mi Al-Faat dengan harapan agar dapat memberikan jasa dan manfaat bagi anggota,gerakan koperasi, masyarakat, lingkungan dan juga para siswa dan siswi.
Sejak berdiri sampai sekarang mengikutsertakan secara aktif semua pihak dan golongan tanpa membedakan suku,ras,golongan dan agama semata-mata hanya untuk bersatu padu dalam hidup berdampingan untuk memecahkan masalah di bidang ekonomi secara bersama-sama dalam satu wadah koperasi.
VISI KOPERASI UNIT USAHA TOKO DI MI AL FAAT
Terwujudnya Koperasi MI AL-Faat yang mandiri dan tangguh dengan berlandaskan amanah dalam membangun ekonomi bersama dan berkeadilan di Indonesia.



MISI KOPERASI UNIT USAHA TOKO DI MI AL FAAT
Upaya untuk mewujudkan VISI, Koperasi  MI AL-Faat melakukan aktifitas sebagai berikut :
·         Mengajak seluruh potensi yang ada dalam masyarakat dengan tanpa membedakan suku,ras,golongan dan agama, agar mereka dapat bersama -sama, bersatu padu dan beritikad baik dalam membangun ekonomi kerakyatan secara bergotong royong dalam bentuk koperasi.
·         Membantu para pedagang kecil dan menengah didalam mobilisasi permodalan demi kelancaran usaha sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
·         Turut membantu pembangunan ekonomi dan menunjang pelaksanaan kegiatan usaha secara aktif dengan mengajak mitra usaha lainnya.
Kiat-Kiat Keberhasilan
Mengutip dari pakar yang telah mengadakan penelitian di Koperasi MI AL-Faat, baik oleh Bapak ABD. MALIK, S.Pd.I, Bapak MUHASIR, S.Pd maupun lembaga peneliti lainnya, menyimpulkan keberhasilan Koperasi  MI AL-Faat disebabkan faktor-faktor sebagai berikut :
1.      Figur dan kharisma para pendiri.
2.      Perekrutan figure tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam lingkungan business dalam menentukan formasi kepengurusan (manajemen).
3.      Penerapan manajemen yang terbuka dan rasional.
4.      Seleksi yang ketat dalam penerimaan anggota, sehingga mewujudkan anggota yang berpartisipasi aktif dalam segala bentuk kegiatan usaha Koperasi Koperasi Usaha TokoJasa.
5.      Mendekatkan lokasi layanan pada sentra-sentra perdagangan para anggota.
6.      Mengikutsertakan semua pihak dan golongan tanpa membedakan suku, ras, golongan dan agama sehingga dengan kesadarannya tercipta sense of belonging baik dari tingkat anggota dan para pengelolanya.
7.      Performance / penampilan perkantoran yang cukup memadai yang menumbuhkan kepercayaan dengan dukungan sarana dan prasarana yang dapat mempercepat pelayanan.
8.      Berjalannya pengkaderan dari kalangan tua yang memberikan kerpercyaaan / kesempatan kepada yang muda.
9.      Sense of business diantara pengelola, sehingga dapat mengutamakan ketepatan dan kecepatan layanan.
10.  Dukungan yang penuh dari masyarakat lingkungan dan pemerintah.
Tujuan Koperasi  MI AL-Faat
Pembentukan koperasi sekolah disini dilaksanakan dalam rangka menunjang pendidikan siswa dan latihan berkoperasi. Dengan demikian, tujuan pembentukannya tidak terlepas dari tujuan pendidikan dan program pemerintah dalam menanamkan kesadaran berkoperasi sejak dini.

Perangkat Organisasi Koperasi Sekolah  MI AL-FAAT terdiri dari :
• Rapat anggota koperasi sekolah.
• Pengurus koperasi sekolah.
• Pengawas koperasi sekolah
Koperasi di  MI ini bernama “Koperasi  MI Al-Faat” sudah berdiri selama 4 Tahun 3 Bulan, dengan anggota 40 orang.

Dalam aturan pinjaman Koperasi Sekolah

SEJARAH KOPERASI SEKOLAH MI AL-FAAT SIPON-BARA

SEJARAH  KOPERASI SEKOLAH
MI AL-FAAT SIPON-BARA

Alamat : Jalan Irigasi No. 1 Sipon Desa Bara Kec.Woja Kab.Dompu
Pengertian Koperasi
Koperasi sekolah  adalah koperasi yang didirikan di lingkungan sekolah Anggota-anggotanya terdiri atas siswa sekolah. Koperasi sekolah dapat didirikan pada berbagai tingkatan sesuai jenjang pendidikan. Sebagai contoh, koperasi sekolah dasar, koperasi sekolah menengah pertama, dan seterusnya. Koperasi tidak berbadan hukum. Pengurus dan pengelola koperasi sekolah dilakukan oleh para siswa di bawah bimbingan kepala sekolah dan guru-guru. Tanggung jawab ke luar koperasi sekolah dilakukan oleh kepala sekolah. Pembinaan terhadap koperasi sekolah dilaksanakan bersama antara Kantor  Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Departemen Pendidikan Nasional RI dan Departemen Agama RI.
Koperasi sekolah tidak berbadan hukum seperti koperasi-koperasi lainnya karena siswa belum mampu melakukan tindakan hukum. Koperasi sekolah diharapkan menjadi sarana bagi pelajar untuk belajar melakukan usaha, mengembangkan kemampuan berorganisasi, mendorong untuk berinovasi, dan sebagainya.
Profil Koperasi Sekolah MI AL-Faat Bara
Koperasi Sekolah MI AL-Faat Bara dididirikan oleh para pengusaha kecil pada tahun 2010 yang memberi solusi dalam mengatasi kesulitan untuk mendapatkan bantuan permodalan, karena pada umumnya mereka mengelola usahanya secara tradisional untuk sekolah.
Untuk menanggulangi kesulitan tersebut pada tanggal 10 Februari 2010 diadakan pertemuan yang terdiri dari tokoh masyarakat dari ketiga etnis : pribumi, keturunan china dan keturunan arab. Mereka sepakat membentuk koperasi yang usahanya di sekolah MI AL-Faat. Dan atas dasar kesepakatan, koperasi tersebut diberi nama Koperasi Mi Al-Faat dengan harapan agar dapat memberikan jasa dan manfaat bagi anggota,gerakan koperasi, masyarakat, lingkungan dan juga para siswa dan siswi.
Sejak berdiri sampai sekarang mengikutsertakan secara aktif semua pihak dan golongan tanpa membedakan suku,ras,golongan dan agama semata-mata hanya untuk bersatu padu dalam hidup berdampingan untuk memecahkan masalah di bidang ekonomi secara bersama-sama dalam satu wadah koperasi.
VISI KOPERASI UNIT USAHA TOKO DI MI AL FAAT
Terwujudnya Koperasi MI AL-Faat yang mandiri dan tangguh dengan berlandaskan amanah dalam membangun ekonomi bersama dan berkeadilan di Indonesia.



MISI KOPERASI UNIT USAHA TOKO DI MI AL FAAT
Upaya untuk mewujudkan VISI, Koperasi  MI AL-Faat melakukan aktifitas sebagai berikut :
·         Mengajak seluruh potensi yang ada dalam masyarakat dengan tanpa membedakan suku,ras,golongan dan agama, agar mereka dapat bersama -sama, bersatu padu dan beritikad baik dalam membangun ekonomi kerakyatan secara bergotong royong dalam bentuk koperasi.
·         Membantu para pedagang kecil dan menengah didalam mobilisasi permodalan demi kelancaran usaha sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
·         Turut membantu pembangunan ekonomi dan menunjang pelaksanaan kegiatan usaha secara aktif dengan mengajak mitra usaha lainnya.
Kiat-Kiat Keberhasilan
Mengutip dari pakar yang telah mengadakan penelitian di Koperasi MI AL-Faat, baik oleh Bapak ABD. MALIK, S.Pd.I, Bapak MUHASIR, S.Pd maupun lembaga peneliti lainnya, menyimpulkan keberhasilan Koperasi  MI AL-Faat disebabkan faktor-faktor sebagai berikut :
1.      Figur dan kharisma para pendiri.
2.      Perekrutan figure tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam lingkungan business dalam menentukan formasi kepengurusan (manajemen).
3.      Penerapan manajemen yang terbuka dan rasional.
4.      Seleksi yang ketat dalam penerimaan anggota, sehingga mewujudkan anggota yang berpartisipasi aktif dalam segala bentuk kegiatan usaha Koperasi Koperasi Usaha TokoJasa.
5.      Mendekatkan lokasi layanan pada sentra-sentra perdagangan para anggota.
6.      Mengikutsertakan semua pihak dan golongan tanpa membedakan suku, ras, golongan dan agama sehingga dengan kesadarannya tercipta sense of belonging baik dari tingkat anggota dan para pengelolanya.
7.      Performance / penampilan perkantoran yang cukup memadai yang menumbuhkan kepercayaan dengan dukungan sarana dan prasarana yang dapat mempercepat pelayanan.
8.      Berjalannya pengkaderan dari kalangan tua yang memberikan kerpercyaaan / kesempatan kepada yang muda.
9.      Sense of business diantara pengelola, sehingga dapat mengutamakan ketepatan dan kecepatan layanan.
10.  Dukungan yang penuh dari masyarakat lingkungan dan pemerintah.
Tujuan Koperasi  MI AL-Faat
Pembentukan koperasi sekolah disini dilaksanakan dalam rangka menunjang pendidikan siswa dan latihan berkoperasi. Dengan demikian, tujuan pembentukannya tidak terlepas dari tujuan pendidikan dan program pemerintah dalam menanamkan kesadaran berkoperasi sejak dini.

Perangkat Organisasi Koperasi Sekolah  MI AL-FAAT terdiri dari :
• Rapat anggota koperasi sekolah.
• Pengurus koperasi sekolah.
• Pengawas koperasi sekolah
Koperasi di  MI ini bernama “Koperasi  MI Al-Faat” sudah berdiri selama 4 Tahun 3 Bulan, dengan anggota 40 orang.

Dalam aturan pinjaman Koperasi Sekolah

Represif : Penguasa atau Rakyat

 
 
Polri sudah semakin represif. Masuk rumah ibadah asal nyereduk gak beretika. Merangsek masuk kampus. Kebebasan berpendapat di bungkam tak ubahnya gaya Orba. Mahasiswa di tangkap, demonstran di selkan. Rakyat yang berontak dengan kebijakan presiden di tembak mati. Yang terpenting kebijakan sang presiden berjalan bebas hambatan. Usia kepemimpinan Jokowi baru berumur jagung, namun sudah ada yang jadi tumbal kebijakan yang tidak pro rakyat. Hati kita pasti menjerit melihat kelakuan Polri memberangus demonstran, perlakuan terhadap mahasiswa tak ubahnya teroris dan penjahat kelas kakap.

Nurani mahasiswa tidak akan tinggal diam di saat ketidakadilan mendera rakyat. Ia semacam gerakan refleks membangunkan kesadaran intelektual mereka untuk memberontak, melawan kesewenang-wenangan penguasa tiran atas rakyatnya. Tapi yang jauh lebih menjerit sebenarnya adalah rakyat kecil. Rintihan dan isak tangis mereka tidak ada yang mendengar, kecuali diri mereka sendiri dan sang Pencipta. Hanya saja mereka tidak tau bagaimana cara melawan kebijakan yang tidak pro kepada mereka. Mereka tidak punya kemampuan mengolah vokal, membentang spanduk menolak kenaikan BBM dan kebijakan yang tidak  pro rakyat lainya. Karena memang sumber daya mereka sangat terbatas.

Rakyat kecil melabuhkan harapanya kepada pemimpin. Namun, harapan itu menjadi imginasi dan khayalan semu yang tidak akan menyelesaikan persoalan yang melilit hidup mereka. Kepada siapa lagi, kalau bukan mahasiswa menjadi tumpuan harapan mereka untuk melawan. Karena mereka sadar wakil rakyat yang mewakili mereka di parlemen juga sudah terkooptasi kepentingan. Presiden Jokowi mesti merevolusi mental aparat yang membabi buta yang menangkap dan menembak mahasiswa dan rakyat. Hem, atau jangan-jangan ini instruksi sang presiden untuk memuluskan kebijakanya agar bebas hambatan.

SUMBER : https://www.facebook.com/notes/

Media dan Perpolitikan Kita

 
Media punya andil besar dalam mengedukasi masyarakat. Peran yang sangat strategis itu menempatkan media sebagai salah satu fitur demokrasi setelah kekuasaan ekskutif, legislatif dan yudikatif. Ia semacam jembatan perantara antara penguasa dan rakyat. Keberaadaanya tidak hanya sebatas sarana komunikasi antara rakyat dan penguasa, tetapi lebih jauh dari itu sebagai sarana check and balances bagi pemerintahan. Media masa juga sebagai institusi penting dalam pranata demokrasi, sebagai media untuk mempublikasikan kebijakan pemerintah. Hal ini menuntut independensi media massa serta mampu menyajikan informasi secara objektif dan transparan.

Sebaliknya, media juga memiliki peran sentral dalam mengaburkan kebenaran di tengah masyarakat. Media yang terkooptasi kepentingan penguasa akan cendrung menyajikan informasi yang tidak transparan dan objektif. Biasanya daya kritis media yang sudah terkooptasi kepentingan akan lumpuh, karena keberadaanya dikendalikan dan akan menjadi corong  titah penguasa. Penguasa yang mampu mengendalikan media berpotensi otoriter dan represif. Karena tidak ada media yang mengkritisi kebijakanya yang tidak pro rakyat.

Polariasi politik pasca pilpres yang melahirkan kekuatan politik konservatif yang di wakili KMP dan kekuatan politik liberal yang di wakili KIH. Polariasi ini juga di ikuti oleh Media dalam setiap penyajian informasi. Media sudah kehilangan jati diri dan profesionalitasnya. Ia cendrung mengikuti arah angin perpolitikan nasional. Indikator-indikator tersebut menjelaskan kepada kita bahwa media sudah terkooptasi kepentingan politik. Dan media  sudah terlampau jauh dan terlibat aktif dalam praktek politik praktis. Parahnya, polariasi tersebut sampai kepada cara berpikir masyarakat dalam menyikapi setiap kebijakan penguasa.

Featured Post

PPDB Penerimaan Peserta Didik Baru Madrasah MI Al Faat Bara-Woja 2024

  Adalah singkatan dari Penerimaan Peserta Didik Baru. Merupakan sebuah halaman web yang digunakan oleh masyarakat dan calon siswa untuk men...

oke